52m yang lalu
Bloomberg: Masalah Utama Bursa Korea Selatan adalah Erosi Kepercayaan Investor
Huo Xing Cai Jing melaporkan bahwa pada 4 Agustus, kolumnis Bloomberg Shuli Ren menilai masalah inti pasar saham Korea Selatan bukan pada memburuknya fundamental perusahaan, melainkan tekanan yang kian besar pada struktur pasar, kebijakan regulasi, dan kepercayaan investor.
Menurut laporan tersebut, pada awal tahun ini pasar saham Korea Selatan sempat menjadi salah satu pasar paling diminati sekaligus paling bergejolak di dunia, dengan indeks KOSPI anjlok hampir 40% hanya dalam 27 hari bursa. Meski Samsung Electronics dan SK Hynix masih diuntungkan oleh permintaan chip AI, serta rasio P/E forward 12 bulan KOSPI turun ke sekitar 5,5x, investor tetap berpotensi memilih menjauhi pasar Korea.
Ren menyoroti salah satu pemicu utama volatilitas ekstrem: regulator sebelumnya menyetujui produk ETF leverage berbasis satu saham. Karena ETF leverage menyeimbangkan ulang portofolio secara mekanis mengikuti pergerakan harga—menambah pembelian saat reli dan memperbesar penjualan saat harga turun—produk ini memperkuat ayunan pasar. Mengacu pada data Goldman Sachs, pada puncak KOSPI di Juni, pergerakan harga 5% pada SK Hynix dapat memicu arus rebalancing ETF leverage hingga setara 40% dari volume transaksi harian saham tersebut.
Kejatuhan pasar juga memukul investor ritel Korea. Data menunjukkan ETF leverage SK Hynix yang paling populer sempat merosot hingga 84% dari level tertinggi Juni, memicu likuidasi paksa pada sekitar 360.000 akun, dengan 62% di antaranya dimiliki individu berusia di bawah 35 tahun.
Ren berpendapat, pemerintah Korea Selatan sebelumnya mendorong reformasi pasar modal untuk menarik partisipasi ritel, tetapi tidak cukup mengendalikan risiko leverage saat euforia perdagangan bertema AI, sehingga menggerus keyakinan investor muda terhadap pasar domestik. Menurutnya, persoalan Korea Selatan saat ini bukan kekurangan peluang pertumbuhan AI, melainkan meningkatnya keraguan atas aturan pasar, kredibilitas regulator, dan stabilitas perdagangan. Jika volatilitas tinggi berlanjut, modal global dapat melewati bursa Korea Selatan, sekalipun industri AI tetap berkembang.