AS dan Jepang Intervensi Beli Yen Secara Terkoordinasi, Pasar Kripto Ikut Memantau
Ringkasan Pasar AI
Intervensi terkoordinasi AS dan Jepang untuk membeli yen (≈¥8.45T) mendorong penurunan tajam USD/JPY, menandakan kesediaan untuk menahan pergerakan yang "tidak teratur". Yen yang lebih kuat meningkatkan risiko pembalikan carry trade, yang berpotensi memperketat likuiditas global dan menekan posisi risiko berleverage, termasuk kripto. Dengan diferensial suku bunga yang masih lebar, intervensi lanjutan akan meningkatkan volatilitas lintas aset meskipun pelemahan yen yang mendasari tetap ada.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCFXUSD2JPY/USDT+0.44%
Wawasan AI · NCFXUSD2JPY/USDTWawasan AI
● Netral
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Amerika Serikat dan Jepang turun tangan bersama di pasar valas untuk pertama kalinya dalam 15 tahun. Presiden Donald Trump mengatakan Departemen Keuangan AS berkoordinasi dengan Jepang dalam intervensi besar-besaran untuk membeli yen pada 31 Juli, yang ia sebut sebagai "sinyal persahabatan" bagi Tokyo.
Langkah ini muncul setelah yen merosot ke level terlemah dalam 40 tahun terhadap dolar AS. Skala operasi dinilai signifikan. Otoritas Jepang memperkirakan nilai intervensi sekitar ¥8,45 triliun, setara kurang lebih US$53 miliar. Pasca-intervensi, USD/JPY turun dari kisaran 164 ke area 156–157.
Intervensi valas terkoordinasi tergolong langka. Terakhir kali AS dan Jepang melakukan aksi bersama adalah pada 2011, ketika yen justru menguat tajam setelah bencana Fukushima dan kedua negara berupaya mencegah spiral deflasi di Jepang. Kini kondisinya berkebalikan: yen dinilai terlalu lemah.
Pelemahan yen hingga 2026 banyak dipicu selisih suku bunga. Jepang mempertahankan suku bunga relatif rendah dibanding AS, membuat dolar lebih menarik bagi arus dana pencari imbal hasil. Tekanan jual yang berkepanjangan mendorong yen ke level yang belum terlihat sejak pertengahan 1980-an.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengonfirmasi intervensi tersebut dan membuka peluang langkah lanjutan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan nada serupa, menyebut opsi tindakan tambahan dapat dipertimbangkan untuk menghadapi pergerakan pasar yang "tidak tertib". Trump menilai koordinasi ini konstruktif secara geopolitik, seraya menekankan manfaat finansial bagi AS dan perekonomian global. Di bawah Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, hubungan kedua negara digambarkan memasuki fase baru, dengan koordinasi mata uang menjadi bagian dari diplomasi.
Dampaknya ikut diperhatikan pelaku pasar kripto karena terkait yen carry trade: meminjam yen berbiaya rendah untuk berinvestasi di aset berimbal hasil lebih tinggi. Saat yen mendadak menguat, posisi carry trade tertekan. Pelaku pasar cenderung membongkar posisi dan menjual aset berisiko untuk menutup kewajiban pinjaman dalam yen.
Pada Agustus 2024, kenaikan suku bunga Bank of Japan memicu penguatan yen yang cepat dan berkontribusi pada aksi jual Bitcoin. Keterkaitan antara pembalikan carry trade yen dan volatilitas kripto sudah pernah terjadi di pasar, bukan sekadar teori.
Intervensi terbaru yang menggeser USD/JPY sekitar delapan poin dalam waktu singkat kembali memunculkan kekhawatiran serupa. Jika AS dan Jepang terus menopang yen melalui pembelian terkoordinasi, carry trade menjadi lebih berisiko. Trader yang meminjam yen untuk membeli Bitcoin atau aset kripto lain menghadapi kemungkinan mata uang pendanaan menguat, menekan imbal hasil atau memaksa likuidasi.
Bagi investor, komentar Bessent tentang penanganan pergerakan "tidak tertib" bisa dibaca dua arah. Sinyalnya: AS tidak ingin yen jatuh bebas, tetapi depresiasi yang "tertib" masih dapat ditoleransi. Area 155 pada USD/JPY menjadi level pantauan. Jika menembus di bawahnya, pasar dapat menilai intervensi berlanjut dan pembongkaran carry trade berpotensi meningkat.
Pada 2026, korelasi Bitcoin dengan aset berisiko masih tinggi. Jika terjadi deleveraging luas yang dipicu dinamika yen, kripto berpeluang ikut tertekan bersama saham. Di sisi lain, selisih suku bunga AS-Jepang tetap lebar sehingga tekanan fundamental terhadap yen belum hilang. Intervensi meredakan gejala, bukan akar masalah. Tanpa kenaikan suku bunga Bank of Japan yang lebih berarti atau penurunan suku bunga The Fed, kecenderungan struktural pada USD/JPY masih mengarah naik.