Investor global menilai ulang risiko kebijakan AS saat perdagangan "jual AS" kembali mencuat

Ringkasan Pasar AI
Posisi "jual AS" yang kembali menguat didorong oleh ketidakpastian kebijakan Washington, persepsi risiko terhadap kredibilitas The Fed, dan dukungan terkoordinasi terhadap intervensi FX Jepang yang menekan dolar. Kenaikan term premia dan proyeksi pinjaman Treasury yang lebih tinggi menambah hambatan durasi dan pasokan, memperkuat tekanan naik pada imbal hasil tenor panjang. Transmisi utama dalam jangka dekat terjadi melalui melemahnya dolar luas dan meningkatnya premi risiko di seluruh pasar suku bunga AS.
Level dampak
● Tinggi
Aset terdampak
NCSIDXY2USD/USDT+0.19%
Wawasan AI · NCSIDXY2USD/USDTWawasan AI
▼ Bearish
Trade sekarang
⚠️ Wawasan yang dihasilkan AI didasarkan pada konten berita dan disediakan untuk tujuan informasi saja. Wawasan ini bukan nasihat investasi dan tidak mencerminkan pandangan BingX. Investasi melibatkan risiko. Harap trade secara bertanggung jawab.
Penulis: Xu Chao | Sumber: Wall Street Journal Serangkaian sinyal kebijakan dari Washington kembali memicu perbincangan di kalangan investor obligasi dan valuta asing global mengenai tema "jual AS". Perubahan gaya komunikasi Ketua Federal Reserve Walsh, dukungan Departemen Keuangan AS terhadap intervensi valas Jepang, pelebaran defisit fiskal, serta bayang-bayang perang dagang dinilai mengikis kepercayaan terhadap aset AS. Perkembangan terbaru menunjukkan Walsh cenderung mengurangi porsi komunikasi kebijakan, memunculkan keraguan pasar atas komitmen The Fed dalam memerangi inflasi. The Wall Street Journal melaporkan, Donald Trump telah beberapa kali menelepon Walsh sejak penunjukannya, melanggar kebiasaan beberapa tahun terakhir—meski belum ada bukti pembicaraan itu menyentuh isu suku bunga. Menteri Keuangan Bessent juga menyetujui dukungan AS terhadap intervensi Jepang untuk menopang yen. Langkah terkoordinasi semacam ini disebut menjadi yang pertama dalam hampir tiga dekade dan menambah tekanan pada dolar. Dampaknya mulai tercermin pada harga pasar. Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun sempat menembus 5%—level tertinggi sejak 2007—sebelum turun kembali. Bloomberg Dollar Spot Index melemah sekitar 2% dari puncaknya pada Juni, dan dolar AS turun terhadap hampir seluruh mata uang G10, sebuah pergerakan yang tidak lazim mengingat suku bunga AS masih tinggi. Rajeev De Mello, Global Macro Portfolio Manager di Gama Asset Management, mengatakan ketidakpastian kebijakan mendorongnya menjual US Treasury dan dolar. Ia menyebut "Biden dan Walsh" sebagai pukulan ganda bagi pasar global dan menilai investor harus memasukkan risiko kebijakan tersebut ke dalam harga dolar serta kurva US Treasury—"premi pemerintahan Trump". Tema "jual Amerika" kembali, tetapi kali ini berbeda Tema "sell America" sempat mencuat pada April tahun lalu setelah Trump mengumumkan langkah tarif yang memicu penurunan serentak dolar, saham AS, dan US Treasury. Gelombang itu memang cepat mereda, tetapi mengguncang asumsi lama bahwa AS dapat terus membiayai defisit fiskal yang membesar berkat status dolar sebagai mata uang cadangan dan kedalaman pasar modalnya. Kondisi saat ini lebih rumit. Saham AS tidak mengalami kejatuhan luas; reli saham teknologi mendorong S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru. Kepemilikan asing atas US Treasury mencapai US$9,4 triliun per Mei, naik 4% dibanding setahun sebelumnya, mencerminkan kepercayaan yang masih terjaga secara keseluruhan. Meski begitu, sebagian investor global di pasar obligasi dan valas mulai menyesuaikan posisi. Carol Lye, manajer investasi di Brandywine Global Investment Management, mengatakan perusahaannya memegang pandangan bearish jangka menengah terhadap dolar AS. Menurutnya, pernyataan Bessent yang mendukung penguatan yen memperkuat tesis dolar yang melemah. Ia juga menilai "sinyal yang membingungkan" dari Washington mengurangi minat arus modal masuk ke AS. Kredibilitas The Fed dipertanyakan, tekanan naik pada tenor panjang meningkat Kekhawatiran utama pasar berpusat pada kemampuan The Fed menambatkan ekspektasi inflasi di bawah kepemimpinan Walsh. Sejumlah analis menilai, jika The Fed tertinggal dalam siklus kenaikan suku bunga, imbal hasil jangka panjang berpotensi mendapat tekanan naik tambahan. Data Bloomberg Economics menunjukkan term premium US Treasury 30 tahun—imbalan ekstra yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang—naik pekan ini menjadi 1,56%, tertinggi sejak 2013. Allianz Global Investors (AUM US$598 miliar) saat ini menyukai strategi steepener, dengan fokus posisi pada obligasi tenor 5–7 tahun melawan obligasi 30 tahun. Ranjiv Mann, Senior Portfolio Manager di perusahaan itu, menyebut risikonya adalah The Fed bisa tertinggal kurva sehingga imbal hasil jangka panjang makin sulit dikendalikan di tengah tantangan fiskal AS yang sudah berat. Di sisi pembiayaan, Departemen Keuangan AS pekan ini menaikkan proyeksi pinjaman kuartalan menjadi US$739 miliar. Pasar juga memperkirakan otoritas akan melanjutkan strategi penerbitan yang dominan pada Treasury bills jangka pendek, yang berarti tekanan pasokan tetap menumpuk. Intervensi yen memicu debat baru soal arah dolar Keterlibatan AS dalam intervensi valas mendorong investor menilai ulang lintasan struktural dolar. Dalam wawancara dengan CNBC, Bessent membela langkah tersebut dan menyatakan pelemahan yen yang berkepanjangan bisa memicu depresiasi lebih luas pada mata uang Asia. Ia menegaskan Washington akan "melakukan apa pun yang diperlukan" untuk membantu Jepang dengan cara yang menguntungkan ekonomi AS dan menstabilkan pasar global. Intervensi dilakukan dengan membeli euro dan menjual dolar AS untuk membeli yen, dengan tujuan menghindari tekanan langsung pada pasar US Treasury. Bessent menyebutnya sebagai "realokasi cadangan." Pelaku pasar tetap mengingatkan risiko rambatan. Jepang adalah pemegang asing terbesar US Treasury, dengan kepemilikan melampaui US$1 triliun. Jika Jepang harus menjual sebagian US Treasury untuk mendanai intervensi, dampaknya dapat merembet ke pasar obligasi pemerintah AS. Steve Brice, Global Chief Investment Officer untuk divisi Wealth Management Standard Chartered, memperkirakan dolar AS turun sekitar 3%–4% dalam 12 bulan ke depan karena "aksi pemerintah dan faktor lain secara bertahap mengikis keunggulan struktural pasar AS." Exceptionalism AS belum berakhir, tetapi risikonya meningkat Sejumlah strategist menekankan belum ada yang memprediksi berakhirnya status dolar AS sebagai mata uang cadangan global atau posisi US Treasury sebagai aset bebas risiko acuan dunia. Lotfi Karoui, multi-asset credit strategist di PIMCO, menulis bahwa aset AS masih menarik bagi pembeli asing, terlihat dari ketiadaan aksi jual serentak berskala besar. Tahun ini, penurunan serentak US Treasury 10 tahun, spread obligasi korporasi investment grade AS, dan dolar AS hanya terjadi pada sekitar 2% hari perdagangan. Menurutnya, bila kepercayaan pada "exceptionalism" AS benar-benar memudar, pola aksi jual serentak itu akan jauh lebih sering. Ronald Temple, Chief Market Strategist Lazard, menilai isu kuncinya adalah laju pembelian US Treasury oleh modal asing tidak lagi sejalan dengan kecepatan pemerintah AS menambah utang. Dalam wawancara dengan Bloomberg Television, ia mengatakan fondasi keyakinan terhadap status aset aman AS sedang berubah dan masih menyisakan pertanyaan besar. Ia memperkirakan tren depresiasi dolar berpeluang muncul kembali dalam beberapa tahun ke depan.